Minggu, 19 Mei 2013

Ekonomi Mikro - Keseimbangan Pasar



Oleh : Mandala Putra
Senin 20 Mei 2013
 
A.         Pengertian Equilty and efficiensi in economic
Equilty ialah keseimbangan, yang dimaksud dengan keseimbangan pasar adalah tingkat harga maupun jumlah barang yang diminta dalam keadaan seimbang dan tidak ada kekuatan atau kecendrungan untuk berubah. Harga equilibrium adalah harga yang terjadi pada saat jumlah barang yang diminta sama dengan jumlah barang yang di tawarkan. Sebaliknya yang dimaksud dengan”disekuiblirium adalah harga yang terjadi disaat jumlah yang diminta tidak sama dengan jumlah yang ditawarkan. Pada harga berapapun di bawah harga equiblirium, maka akan menyebabkan kelebihan permintaan, sedangkan bila harga terjadi di atas harga equiblirium maka akan terjadi kelebihan penawaran.[2]
Efisiensi dalam ilmu ekonomi digunakan untuk merujuk pada sejumlah konsep yang terkait pada kegunaan pemaksimalan serta pemanfaatan seluruh sumber daya dalam proses produksi barang dan jasa.
Sebuah sistem ekonomi dapat disebut efisien bila memenuhi kriteria berikut:
·               Tidak ada yang bisa dibuat menjadi lebih makmur tanpa adanya pengorbanan.
·               Tidak ada keluaran yang dapat diperoleh tanpa adanya peningkatkan jumlah masukan.
·               Tidak ada produksi bila tanpa adanya biaya yang rendah dalam satuan unit.
Sebuah sistem ekonomi yang efisien dapat memberi lebih banyak barang dan jasa bagi masyarakat tanpa menggunakan lebih banyak sumber daya. Dalam ekonomi pasar secara umum diyakini akan lebih efisien dibandingkan dengan alternatif lainnya. yang pertama mendasar dalil kesejahteraan berdasarkan penyediaan kepercayaan oleh karena itu bagi yang menyatakan bahwa setiap pasar berkeseimbangan sempurna berdasarkan kompetitif adalah efisien (tetapi hanya ada bila tidak teradi ketidaksempurnaan pasar).
Kebijakan reformasi dalam ekonomi mikro adalah bertujuan membuat kebijakan yang mengurangi distorsi ekonomi dan peningkatan efisiensi ekonomi. Namun, tidak ada teori dasar yang jelas bahwa dengan menghapus distorsi pasar maka akan selalu dapat meningkatkan efisiensi ekonomi. Selanjutnya yang kedua berdasarkan dalil yang menyatakan bahwa jika ada beberapa distorsi pasar maka tidak dapat dihindari hanya dalam satu sektor saja yang akan bergerak ke arah yang lebih besar dalam kesempurnaan pasar terdapat sektor lain yang bisa menurunkan efisiensi.[3]
B.         Pengaruh Perubahan Permintaan dan Penawaran ke Atas Keseimbangan
Permintaan atau penawaran akan mempengaruhi permintaan dan penawaran, akan menimbulkan perubahan keadaan keseimbangan. Terdapat empat kemungkianan perubahan atau pergeseran kurfa permintaan dan penawaran Hukum permintaan dan Penawaran[4]. Apabila terjadi perubahan pada faktor- faktor selain harga baik pada kurva permintaan maupun kurva penawaran maka akan menyebabkan pergeseran –pergeseran pada kurva tersebut. Akibat pergeseran tersebut maka akan mempengaruhi harga dan kuantitas keseimbangan. 4 hukum permintaan dan penawaran, yaitu:
KONDISI PERUBAHAN
PERGESERAN PERMINTAAN ATAU PENAWARAN
PENGARUH TERHADAP HARGA DAN KUANTITAS KESEIMBANGAN
Bila permintaan meningkat
Kurva permintaan bergeser kekanan
Harga dan kuantitas keseimbangan meningkat
Bila permintaan menurun
Kurva permintaan bergeser kekiri
Harga dan kuantitas keseimbangan menurun
Bila penawaran meningkat
Kurva penawaran bergeser kekanan
Harga menurun, sedangkan kuantitas meningkat
Bila penawaran menurun
Kurva penawaran bergeser kekiri
Harga meningkat, sedangkan kuantitas menurun
Secara logis hukum – hukum permintaan maupun penawaran yang terdapat pada tabel diatas dapat dijelaskan dengan penalaran sebagai berikut :
1.            Apabila jumlah permintaan meningkat, akan menyebabkan jumlah barang menjadi berkurang sehingga para pembeli yang tidak terpuaskan mau menawar barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi. Harga yang lebih tinggi akan merangsang produsen untuk memproduksan barang tersebut lebih banyak. Oleh sebab itu akan mengakibatkan tingkat equilibrium berubah dimana harga maupun keseimbangan tersebut menjadi sama - sama meningkat dengan adanya pertambahan permintaan.

2.            Apabila terjadi penurunan permintaan, maka persediaan barang menjadi berlimpah sehingga para penjual terpaksa menawarkan harga yang lebih murah, agar barang yang dijual terbeli konsumen. Dengan turunya harga produsen menjadi enggan untuk memproduksi barang tersebut, sehingga produk yang ditawarkan menjadi berkuran. Pada posisi titik keseimbangan yang baru baik harga maunpun jmlah barang sama –sama menurun.

3.            Kenaikan penawaran biasanya terjadi pada saat panen raya , menyebabkan persediaan suatu barang menjadi melimpah, oleh sebab itu bila produsen tidak mampu meningkatkan penjualannya maka dengan terpaksa harga harus diturunkan. Penurunan harga akan menarik konsumen untuk membeli barang tersebut. Oleh sebab itu equilibrium yang baru terjadi pada harga yang lebih rendah sedangkan kualitas dan jumlah yang meningkat.

4.            Turunnya penawaran, misalnya karena kegagalan panen atau kegagalan produksi menyebabkan barang yang ditawarkan menjadi berkurang, oleh sebab itu harga yang ditawarkan menjadi lebih tinggi. Dampak dari kenaikan harga tersebut menyebabkan jumlah kuantitas yang diminta berkurang . Sehingga ekuilibrium yang baru terjadi pada harga yang ebih tinggi sedangkan kuantitas dalam jumah yang lebih sedikit.[5]





C.         Permintaan, Penawaran, dan Ekuilibrium
Pengaruh Subsidi Terhadap Keseimbangan Pasar
Subsidi ialah suatu bentuk bantuan keuangan yang dibayarkan kepada suatu usaha atau sektor ekonomi. Adanya subsidi (s) yang dibayarkan oleh pemerintah kepada perusahaan yang menguntungkan masyarakat akan mengakibatkan harga (P) turun dan permintaan (Q) meningkat. Bila fungsi harga penawaran Ps=f(Q) dengan adanya subsidi (s) membuat harga penawaran baru yaitu:
http://behindus.files.wordpress.com/2011/04/snap020.jpg?w=193&h=72
Sedangkan bila fungsi jumlah penawaran ialah Qs = f(P). Dengan adanya subsidi (s), maka jumlah penawaran yang baru adalah:
http://behindus.files.wordpress.com/2011/04/snap021.jpg?w=204&h=79
Sehingga keseimbangan pasar yang baru terjadi ketika:
http://behindus.files.wordpress.com/2011/04/snap022.jpg?w=232&h=79
Dimana:
Ps’ : harga penawaran setelah subsidi
Qs’: jumlah penawaran setelah subsidi
a    : angka bebas
b    : gradien
P    : harga barang
s     : subsidi dari pemerintah
Besarnya subsidi yang diberikan pemerintah serta subsidi diterima oleh konsumen dan produsen dapat dihitung melalui rumus berikut ini:
Subsidi yang diberikan pemerintah
http://behindus.files.wordpress.com/2011/04/snap023.jpg?w=147&h=75
Dimana:
S       : subsidi yang diberikan pemerintah
s        : subsidi per unit
Qe’   : jumlah keseimbangan setelah subsidi
Subsidi untuk konsumen
Subsidi per unit:
http://behindus.files.wordpress.com/2011/04/snap024.jpg?w=147&h=74
Subsidi keseluruhan:
http://behindus.files.wordpress.com/2011/04/snap025.jpg?w=200&h=74
                  Dimana:
Sk     : subsidi yang diterima konsumen
Pe     : harga keseimbangan sebelum subsidi
Pe’    : harga keseimbangan setelah subsidi
Qe’: jumlah keseimbangan setelah subsidi
                   Subsidi untuk produsen
http://behindus.files.wordpress.com/2011/04/snap026.jpg?w=151&h=73
Dimana:
sp      : subsidi yang diterima produsen.
S       : subsidi yang diberikan pemerintah.
sk      : subsidi yang diterima konsumen.
Untuk memahami rumus tersebut, perhatikan penerapannya dalam contoh berikut:
Diketahui:
Qd = -3P + 2400   …………………………………………………………. (I)
Qs  = 3P – 480      …………………………………………………………. (II)
Pemerintah memberikan subsidi sebesar s = 12 per unit.
1.            Keseimbangan pasar sebelum subsidi
Syarat keseimbangan pasar ialah Pd = Ps atau Qd = Qs
-3P +2400    = 3P-480
-3P-3P = -480 -2400
-6P = -2880
Pe = 480
Masukkan Pe ke dalam persamaan (I) berikut:
Q = -3P + 2400
Q = -3 (480) + 2400
Q = -1440 + 2400
Qe = 960
Sehingga keseimbangan pasar sebelum subsidi adalah Qe = 960 dan Pe = 480.
2.            Keseimbangan pasar setelah subsidi
Fungsi penawaran baru setelah subsidi adalah:
Qs’ = a + b (P+s)
Qs’ = b (P+s) + a
Qs’ = 3 (P+12) – 480
Qs’ = 3P + 36 – 480
Qs’ = 3P- 444
Keseimbangan pasar setelah subsidi:
Qd = Qs’
-3P + 2400 = 3P – 444
-3P -3P = -2400 -444
-6P = -2844
Pe’ = 474
Masukkanlah hasil tersebut ke persamaan (I) sebagai berikut:
Q = -3P+2400
Q = -3 (474) + 2400
Q = -1422 + 2400
Qe’  = 978
Sehingga keseimbangan pasar setelah subsidi adalah Qe’ = 978 dan Pe’ = 474.
3.            Subsidi yang diberikan pemerintah
S = s x Qe’
S = 12 x 978
S = 11.736
4.            Subsidi untuk konsumen
sk = (Pe – Pe’) x Qe’
sk = (480 – 474) x 978
sk = 6 x 978
sk = 5.868
5.            Subsidi untuk produsen
sp = S – sk
sp = 11.736 – 5.868
sp = 5.868
Dari contoh soal di atas didapat hasil:
http://behindus.files.wordpress.com/2011/04/snap027.jpg?w=300&h=50
Excess Demand dan Excess Supply
1.            Excess demand adalah kelebihan jumlah permintaan akibat penurunan harga (demand>supply). Hal ini terjadi manakala pemerintah menetapkan kebijakan harga maksimum. Kebijakan ini bertujuan untuk melindungi konsumen berdaya beli rendah.
2.            Excess supply adalah kelebihan jumlah penawaran akibat kenaikan harga (supply>demand). Kondisi ini terjadi jika pemerintah menetapkan harga minimum, tujuannya adalah melindungi produsen dari kerugian.
Untuk memperjelas ilustrasi di atas perhatikan grafik berikut:
http://behindus.files.wordpress.com/2011/04/excess-demand-supply.jpg?w=300&h=233
Penjelasan grafik:
Harga pasar terjadi pada harga Rp 500,00 dengan jumlah 50 unit dan membentuk keseimbangan pasar.
Ketika kebijakan harga maksimum diberlakukan, harga turun menjadi Rp 400,00 sehingga menyebabkan naiknya permintaan menjadi 60 unit. Di sisi lain mengakibatkan turunnya jumlah penawaran menjadi 20 unit. Sehingga jumlah permintaan lebih besar daripada penawaran sebesar 60-20 unit = 40 unit (Excess demand).
Ketika kebijakan harga minimum diberlakukan, harga naik menjadi Rp 600,00 sehingga menyebabkan turunnya permintaan menjadi 30 unit. Hal ini meningkatkan jumlah penawaran menjadi 60 unit. Maka terjadilah kelebihan penawaran atas permintaan sebesar 60-30 unit = 30 unit (Excess supply).[6]
DAFTAR PUSTAKA
LeRoy, Miller Roger dan Roger E.Maineres. Teori Ekonomimikro Intermediate. Jakarta Utara: PT Raja Grafindo Persada, 1993
Purnamaningrum,Tri Kunawangsih,  Pengantar Ekonomi Mikro. Jakarta Barat:Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Trisakti, 2000
Sukirno,Sadono. Pengantar Teori Mikroekonomi. Jakarta Utara: PT Raja Grafindo Persada, 2001
http://id.wikipedia.org/wiki/Efisiensi_%28ekonomi%29#cite_note-0
http://behindus.wordpress.com/category/ekonomi/


[1] Roger LeRoy Miller dan Roger E.Maineres, Teori Ekonomimikro Intermediate, (Jakarta Utara: PT Raja Grafindo Persada, 1993) cet.1, hal: 599
[2] Tri Kunawangsih Purnamaningrum,  Pengantar Ekonomi Mikro,(Jakarta Barat:Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Trisakti, 2000), cet 1, hal: 51
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Efisiensi_%28ekonomi%29#cite_note-0
[4] Sadono Sukirno, Pengantar Teori Mikroekonomi, (Jakarta Utara: PT Raja Grafindo Persada, 2001), cet 15, hal 94
[5] Tri Kunawangsih Purnamaningrum,  Pengantar Ekonomi Mikro, hal: 54

[6] http://behindus.wordpress.com/category/ekonomi/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar